gizi-buruk2Cerita dan derita kaum miskin pedesaan tidak pernah kunjung usai. Di Kabupaten Subang, bernama Siti Maesaroh. Putri pasangan Rasyid, 42, dan Siti Aminah, 35, warga Dusun Kaum Tua, RT 07 RW 02, Desa Pamanukan Hilir, Kecamatan Pamanukan, Subang terkulai lemas  di atas kasur Puskesmas Pamanukan akibat menderita gizi buruk.

Kondisi tubuh Siti sungguh memprihatinkan. Kondisi tubuh gadis manis berusia 4 tahun itu sudah tidak tampak lagi gumpalan daging, yang tersisa tinggal tulang-belulang. Kulitnya sudah mulai mengering dan keriput, barangkali fungsi kulit tubuh Siti bukan lagi untuk merasa, tapi untuk penutup kulit bagian dalam yang sudah tak lagi berujud.

Matanya masih berfungsi normal, bahkan jauh lebih normal. Tidak hanya untuk melihat, tapi dua bola matanya itu untuk meyampaikan isyarat dan menyampaikan kepedihan kepada orang tuanya. Sementara tubuhnya sudha tidak lagi mampu menahan dalam posisi duduk, demikian halnya anggota tubuh lainnya, tidak banyak memberi fungsi.

Siti Maesaroh adalah satu dari ratusan bahkan ribuan warga Indonesia yang mengalami gizi buruk. Menurut cerita ibunya, Aminah, semasa kecil Siti tidak mendapat asupan gizi memadai, seperti layaknya bayi dari orang tua kebanyakan. Bahkan bisa jadi, asupan air susu ibu (ASI) sangat jarang diterima Siti, karena Aminah sibuk mengamen untuk membiayai kebutuhan keluarganya.

Menginjak usia 4 tahun, kondisi kesehatan Siti semakin memburuk. Akhirnya, kedua orangtiuanya memutuskan untuk di bawa ke Puskesmas Pamanaukan, meskipun semula keluarga ini tidak berencana untuk membawa putrinya ke Puskemas. Sebab yang ada di pikiran keduanya, biaya berobat mahal. Sementara pendapatan yang diterima dari pekerjaan serabutannya itu hanya bisa menutup kebutuhan pada hari itu saja. Itupun masih jauh dari cukup.

“Awalnya kami tidak berencana untuk membawa ke puskesmas, jangankan untuk berobat buat makan saja masih susah, karena tidak punya uang. Tapi suami memaksa untuk dibawa ke Puskesmas karena kondisinya begini, akhirnya kami bawa ke sini biar dapat pertolongan,” kata Aminah.

Siti Maesaroh masuk Puskesmas Pamanukan pada Jumat (20/11) kemarin, tentu harapan keluarganya kondisi Siti bisa secepatnya pulih. Tapi di balik harapannya itu, wajah Aminah menyimpan kegundahan dan beban besar. Dalam hatinya paling dalam muncul pertanyaan besar yang entah kapan akan segera terjawab.

“Dengan apa kami harus membayar biaya pengobatan Siti. Kerjaan saja tidak ada, dan biasanya saya mengamen untuk kebutuhan sehari-hari, tapi sekarang saya di Puskesmas jadi saya ada di sini terus,” ujarnya lirih.

Ironisnya, permasalahan ekonomi yang dialami keluarga Aminah itu belum mampu mengetuk aparat pemerintah setempat. Dengan pekerjaan sehari-hari sebagai buruh serabutan dan pesuruh siapa saja yang menyuruh, keluarga itu dianggap belum layak dan pantas mendapat asuransi kesehatan pemerintah melalui program Jamkesmas.

Parahnya lagi, saat Siti mengerang menahan sakit akibat gizi buruk, dan Aminah bingung mencari biaya berobat, petugas pendataan Jamkesmas mengklaim jika program Jamkesmas itu sudah tepat sasaran dan sesuai peruntukan, ini dibuktikan dengan klaim pasien jamkesmas ke PT. Askes tidak ada yang bermasalah. Padahal dari salah seorang petugas di dalamnya menyebutkan, penerima kartu jamkesmas itu diantaranya adalah warga yang sudah menjalankan ibadah haji.

Lalu, bagaimana dengan bantuan dari pemerintah? “Tidak ada bantuan atau yang menjenguk. Meskipun tetangga saya sudah melaporkanya. Dibawa ke puskesmas saja, kami yang langsung membawanya, setelah beberapa tetangga menyarankan kami untuk membawa ke puskesmas karena meihat kondisi Siti,”imbuhnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)