Wisma Karya Subang For Rent????
Kayaknya masyarakat yang ber-KTP Subang harus diragukan kalau belum tahu Wisma Karya, apalagi anak-anak mudanya. Kampungan dan kagak gaul banget dah kalo gak tahu dan kenal yang namanya Wisma Karya. Secara gedung itu adanya di pusat jantung Kota Subang dan biasanya jadi tempat malam mingguan yang asyik.
jelas saya protes keras kalau ada yang gak tahu Wisma Karya, di Jalan Ade Irma Suryani, Subang itu. Tapi saya maklumin kalau gak semua orang subang yang gak tahu fungsi gedung itu sebelum jadi Wisma Karya. Karena bisa jadi yang mereka tahu kalo wisma karya subang itu sebatas tempat resefsi pernikahan, pentas band music, maen anak-anak balita, dan mojok alias wakuncar buat anak-anak dewasanya.

Nah kalo itu masalahnya, sekedar berbagi saja, saya mau paparin di sini, hasil penjejakan annas beberapa hari lalu. Pada satu waktu iseng-iseng ngobrol ama salah seorang pejabat Dinas Budaya dan Pariwisata, Kadarsyah. Kata Kang Kadar sebelum jadi Wisma Karya, nama gedung itu Societeit. Gedung itu dipake ama orang Welondo buat tempat hiburan ato refreshing. Di tempat itu ada biliard, bolling, kafe, pertunjukan film, dan olahraga golf. “Gedung yang sekarang dipake bakal museum dulunya dipake buat biliard, kalo ruang utama ini dulunya kafe, nah ruangan aula (pertemuan) waktu zaman welondo dipake buat gedung film,” katenye.
Karena wisma karya tempat refreshing gegeden welondo, tentu saja ada tempat laen yang jadi tempat tidur mereka dan kantornya. Nah masih kata Kang Kadar, waktu zaman welondo itu, ada bangunan rumah yang jadi tempat tinggal mereka, yang sekarang dikenal Big House, terus kantor pusat Pamanoekan & Tjiasem Land (P&T Land) tempat usaha mereka, lokasinya yang sekarang jadi Subang Plasa yang udah dijual ke orang. Kalo gedung yang sekarang dipake Kantor Tata Ruang dan Arsip dulunya tempat Percetakan.
Jadi gedung societiet itu dulunya jadi tempat tongkrongan orang-orang welondo. Nah begimana dengan sekarang setelah jadi wisma karya? Gak jauh beda, sekarang Wisma Karya juga jadi tempat tongkrong remaja, apalagi malam minggu. Anak muda-mudi pada mangkal dan nonkrong di sana. Ada yang bareng adeknya, ponakannya, dan kebanyakan mereka nongkrong ama kekasih dan pujaan hatinya. Malah kata bisik-bisik tetangga, sebelum dipasang lampu tembak ukuran gede itu, wisma karya juga, katanya, jadi tempat memadu kasih remaja yang lagi dibakar api cinta.
Emang sih suasana tempatnya ndukung banget; selain di pusat kota, (waktu itu) suasananya gelap, dan sebelah timur gedung ada anak sungai yang mengalirkan air dan mencipta dendang music romantic. Selain dipake buat pacaran, wisma karya juga dipake buat resefsi nikahan, trus pentas music. Semuanya pake istilah sewa, kecuali pacaran aja yang gratis.
Oiya satu lagi, ruangan di bagian depan wisma karya itu dijadiin museum, alias gudang benda purbakala bersejarah hasil penemuan warga di perut bumi subang. Sementara di bagian sebela barat, ada ruangan yang di bagian depannya ada papan bertuliskan kantor secretariat salah satu organisasi massa (Ormas). Nah begitu kalo ngomongin sebagian fungsi wisma karya terakhir ini.
Tapi kalau ngomongin fisik gedungnya, ayo kita jelajahi bagian dalam gedung itu. Waktu saya ngubek-ngubek di gedung wisma karya itu, saya salut dengan sikap pemerintah setempat yang mempertahankan kemurnian bentuk bangunan made in welondo itu. Arsitek gedung yang dibangun tahun 81 tahun itu, sampe detik ini bentuknya masih seperti itu. sampe-sampe, saking penghargaanya atas nilai history-nya itu, gedung Wisma Karya yang kondisinya sudah babak belur, dibiarkan apa adanya.
Waktu masuk ke beberapa ruangan Wisma karya, lantai gedung yang dilapisi ubin itu udah pada rusak, dan bararutut. Malah kalo diinjek, ubin pada berdenyit terus prak pecah. Sementara kalo liat ruangan yang sekarang biasa dipake buat resefsi pernikahan, coba deh liat di bagian atapnya, he he he koq atap gedung banyak Koran-koran bekas, kayaknya buat nutupin genting yang bocor, biar gak ganggu pencahayaan.
Lebih sempurna lagi kalo kita masuk ruangan yang ada di bagian belakang. Yups sempurna, sempurna untuk bilang “cocok banget neh kalo dijadiin tempat suting felm horror atau hantu,”, karena production house gak repot-repot nyiapin jaring laba-laba, karena sudah tersedia di mana-mana, dan infrasrukturnya sudah cukup usang.
Tapi saya masih bersyukur Wisma Karya itu tidak seperti nasib gedung yang semula dijadiin Kantor Pusat P&T Land, yang sekarang udah dijual ke orang laen, meskipun faktanya gedung warisan welondo itu kadang-kadang suka disewakan untuk acara resefsi pernikahan, atau pentas music band (duit sewanya kemana ya eh buat apa ya). Lebih bersyukur lagi, Bung Karno tidak tahu. Gak kebayang, begimana marahnya dia liat kadernya yang tidak taat sama pesannnya itu, JAS MERAH (Jangan Sampai Melupakan Sejarah).
Tapi kalo boleh saya usul mah, kenapa gedung itu gak diikhlaskan saja untuk pelaku seni tradisional, untuk dijadiin gedung tempat berkumpulnya kesenian dan seniman subang. Pan sudah beberapa kali diminta ama Dewan Kesenian Subang. Inikan bisa setali tiga uang, Wisma terpelihara, kesenian tradisional terpelihara dan terpusat, dan senimannya gak pusing nyari tempat buat latian. Entahlah, karena setiap manusia punya cara pikir dan pandang tersendiri….
Dan ini sekedar usul saya aja, saya juga gak maksain pemerentah ato para wakil rakyat untuk gak nganggep usulan saya ini jadi angin lalu aja. Jadi kalo ada yang kesinggung, ya emang ini yang saya ingini, artinya mata, kuping ama hati mereka masih berfungsi. Kali aja ada follow up…
Tags: subang, wisma karya



blom tahu bang .. maklum orang semarang
Dikota lain, misalnya di Jawa tengah, bangunan kolonial bisa mendatangkan kesejahteraan buat rakyat disekitarnya karena disatupadukan dengan paket wisata. Ya, hitung hitung deviden dari masa penjajahan dulu. Nah, kalo di Subang malah dijualin. Itu namanya merampok deviden yang harusnya keterima ama rakyat subang, apalagi bagi para turunan mantan kuli kontrak jaman P & T. Kalo bener kata orang Subang Asli pada komenya , yang ngejualinnya itu Mang Eep, ya maklum, kalo ga salah kan beliau orang Ciater, sepertinya keluarganya dulu adalah bagian dari keluarga besar P & T, entah mantan Mandor Afdeling atau apalah, yang akhirnya merasa berhak ngejualin gedung bekas P & T. ya, itu tadi itung2 deviden penderitaan masa kuli kontrak dulu.
Aset Subangmah tos seep di icalan ku mang eef …nya biasa lah ka saha deui mun lain ka urang cina si boklim tea …di subang saha nu wani atuh lah loba di bebejokeun.
Cobalah mas Anas membuat proposal pengajuan nyang diinginken itu agar gedungnya bisa berfungsi sebagaimana nyang diusulken itu mas kepada Dinas Pariwisata. Saya yakin kalawo ada usulan dalam bentuk proposal mereka akan berpikir kok.
jejak annas: masalah ini sudah diajukan oleh pihak dinas budpar setiap tahun melalui jalur resmi. tapi kata narsum saya, sampe skr pemkab dan dprd masih belum mengamini
Kalau saya liat, wisma karya itu seperti kurang perawatan y.. padahal posisinya tepat dijantung kota subang. dulu kan saya (waktu masih SMA) sering tuh nongkrong di wisma, banyak coretan2 didinding yang sungguh sangat disayangkan. entah skg. apakah ini karena wisma karya itu gedung kesenian?? jadi temboknya pun bisa dicorat-coret seenaknya. mudah2n pemerintah subang lebih memperhatikan aset-asetnya. apalagi wisma merupakan “wajah kota subang”.
Catatan ini semata berisi kakeuheul. Jadi maaf jika sistematikanya tidak terjaga. Maklum, pagi-pagi udah disuguhi tulisan pikasebeleun ti Kang Annas. Jadi weh murang-maring. Dari pada kalah ngarusak mood dagang nasi goreng nanti malam, mending muntah dulu disini.
Membaca catatan Kang Annas pada Jejak Annas di http://Bakudara.com berjudul : Wisma Karya Subang For Rent????, sejenak saya teringat pada sosok Pak Kadar Hendarsyah, (narsum Kang Annas di Bakudara.com) . Kalo tidak salah dulu beliau adalah salah seorang Penggiat dan Penggagas Teater di Subang bersama Teater Lorong. Tahun 1999 Pak Kadar bersama Teater Lorong mementaskan pementasan teater di subang, ini merupakan pementasan pertama sejak Angkatan teater Stupa (Angkatan Kang Zurith, Kang Moddy, Bu Enay, Kang Idit (alm) , itu terjadi pada medio thn ‘70 - ‘80an. Setelah beberapa kali pementasan Kang Kadar sempat melontarkan gagasan, bahwa jika saja Gedung Wisma Karya dijadikan sebagai Gedung Kesenian Subang, sepertinya aktivitas kesenian subang bisa terakomodir dan Gedung Wisma Karya bisa dijadikan pula sebagai Pusat Kebudayaan. Selain Kang Kadar, Abah Renggo dan Kang Agustyas Amin juga, ketika bergiat di Dewan Kesenian Subang melontarkan hal serupa.
Namun hingga saat ini impian para penggiat seni dan budaya akan adanya Gedung Kesenian belum juga terwujud. Meski jika mau menakar dengan potensi seni budaya baik tradisi dan kontemporer, subang sudah selayaknya memiliki Gedung Kesenian. Untuk seni tradisi, Subang punya Sisingaan, punya Seniman Toleat, punya Tarian Doger Kontrak, Gembyung Dangiang Dongdo dan Grup-grup kesenian lainnya; Untuk seni kontemporer, Master Yoyo Indonesia ada di subang (Kang Oke), Padepokan Abah Renggo (Tradisi dan Kontemporer), Teater Lorong (sekarang kabarnya mati suri), sederet Grup Band yang pernah berprestasi pada level Jawa Barat maupun Naional. Belum lagi para penggiat sastra, teater dan film yang berkiprah di luar Subang.
Potensi diatas, jika berhasil disinergikan, maka akan terbentuk atmosfer kebudayaan yang sedemikian rupa sehingga suatu saat nanti diharapkan dapat mempengaruhi pola pikir, dan sikap tindak urang subang yang mencerminkan kearifan lokal, atau setidaknya memiliki ruang kontemplatif untuk perenungan jatidiri urang subang.
Tapi mungkin ini belum akan terwujud jika orientasi para stakeholder di subang masih bicara budaya pada tataran permukaan saja, misalnya dengan “kampretisasi PNS”, atau “Iketisasi” PNS,(- ini berdampak pada meningkatnya penjualan batu ali. beh pantes cenah, atwa beh jiga jawara, ngan angger ari didatangan wartawan mah sok rajeun nyumput)
Jika memang “kampretisasi” adalah permulaan atau fase awal untuk menumbuh kembangkan budaya subang, maka seharusnya diikuti juga dengan fase berikutnya berupa optimalisasi peran Pemerintah dalam memfasilitasi pengadaan ruang-ruang publik yang berorientasi pada pengembangan seni dan budaya, yaitu gedung kesenian. Bukan Sirkuit balap di Sukamelang !!! kecuali jika “kampretisasi” hanyalah akal bulus pencitraan golongan politik tertentu.
Jika memang ada gelagat bahwa Gedung Wisma Karya akan bernasib sama dengan Gedong Gede yang dijual ke Swasta, trus “kebakaran”, atau gedong2 lain yang beralih status, maka cukup terbukti bahwa “kampretisasi” semata hanya ulah avonturir politis yang sejauh ini berhasil membujuk rakyat dengan pencitraan masyarakat marjinal lewat simbol baju kampret. Setelah itu maka bagi para budayawan, seniman, penggiat seni tidak jalan lain kecuali menghakimi penanggungjawab penjualan asset negara, baik lewat jalur hukum ataupun jalur lain yang bisa dilakukan.
Kalo perlu dilakukan gerakan nasionalisasi versi subang atas asset subang yang tidak selayaknya di pindah tangankan ke swasta. Ini menjadi gawat karena disinyalir selain persoalan asset negara berupa gedung, ternyata juga ratusan hektar tanah subang telah dikuasai oleh bukan orang subang, dan oleh hanya beberapa gelintir orang saja. Belum lagi urusan tanah negara yang beralih status. Siapa yang bertanggung jawab.
Subang harus kembali milik urang subang. Jika peralihan Hak milik tidak terkedali, dan dibiarkan terus seperti ini, maka bukan migrasi penduduk yang terjadi, tapi invasi sosial. Ini harus dihentikan dengan cara apa saja.
Saya masih ingat satu bait Himne Subang:
Judul : Subang Milik Urang
Subaaaaang, miliiiiik kuuuuring; Kuring nu ngaping ngajaring
Subaaaaang, bagjaa uuurang; uuurang nu tandang bajuang
Sepertinya bait diatas harus diganti
Judul : Subang (Lain) Milik Urang
Subaaaaang, miliiiiik kuuuuring; Kuuuring nya kumaha Aaaaing
Subaaaaang, banda uuurang; baaabaaanda babanda keur uuuurang
Setuju kang. Gedung kesenian? wow, mimpi kalee. mudah-mudahan para pejabat bisa mewujudkan mimpi ini.
hahahahaha…..manteb kang!!!! ide di alinea terakhir patut dipertimbangkan oleh “penguasa” tuh..