Aku Pulang, Kuterima Kekalahanku
Yeah akhirnya proses packing sudah kelar, dari pagi sampe jam 14.00 WIB sibuk dengan barang-barang. Semua barang yang dianggap perlu dan penting sudah masuk karung dan kardus. Sementara barang yang gak penting harus diikhlaskan untuk masuk kotak sampah yang digantung di depan rumah. Dan ada beberapa barang yang terpaksa dijual.
Selesai packing, beberapa menit supir mobil yang disewa untuk mengantarkan ke Pondok Aren datang ke kontrakan yang sejak tiga tahun lalu jadi surga kehidupan saya. Bukan untuk memastikan keberangkatan. Tapi untuk memberikan simpati, dan memberikan lima ekor ayam sebagai kenangan. Abah, kami panggil supir itu. Pria duda berusia sekitar 50 tahunan itu adalah ayah dari sahabat istri saya.
mobil yang mengantarkan ke pondok aren
Sahabat istri saya itu namanya Rini, saya biasa memanggil teh Jepret. Perempuan ini satu-satunya orang yang membantu proses packing barang dari pagi sampe sore. Kehairan Rini sudah menepis kesedihan saya yang (jujur) merasa yatim. Dan karena keikhlasan dia membantu sudah menegaskan bahwa saya masih punya teman dan sahabat saat di penghujung kepergian.
Bapak dan Anak itu benar-benar membuat saya terharu sekaligus tegar. Abah yang hanya sekedar supir, tapi dia memiliki hati untuk datang menghibur, bahkan membawa lima ekor ayam Bangkok yang dia sembahkan sebagai kenangan. Demikian juga anaknya, di akhir keberadaan kami, dia mendedikasikan tenaganya untuk kami. Padahal kedua orang ini bukanlah narsum atau seseorang yang pernah saya bantu melalui pemberitaan.

sahabat kecil yang siap membantu dan menentramkan hidupku
Selain Rini, kami mengerjakan proses packing hanya dengan istri dan anak semata wayang. Ada kesedihan mendalam saat proses packing itu. Kesedihan bukan karena beberapa saat lagi berangkat ke pondok aren tempat pelabuhan kami ke depan. Kesedihan karena sesuatu yang membuat saya, sekali lagi, merasa yatim.
Bagiku ada pemandangan kontradikitf yang dilakukan saat ini dengan testimony melalui facebook, blog, sms, dan telpon. Sejumlah pujian mentasbihkan saya sebagai “pahlawan” atas apa yang dilakukan, dan pada satu sisi, pahlawan yang mereka gelari itu pada justru sudah diyatimkan oleh keadaan. Dan dalam kondisi seperti ini, kerap kali pemikiran “nakal” itu lahir, bahwa wajar tidak banyak orang yang mau berlawanan arah atau mencurahkan untuk perubahan karena tidak banyak memberi apa-apa.
Tapi sudahlah, ini menjadi konsekwensi logis yang harus saya jalani dan apa yang telah dilakukan. Dan apapun yang sudah saya sembahkan untuk apapun adalah sebuah kebanggan terbesar. Meskipun saya tidak berpendapat bahwa itu semua ada manfaatnya untuk siapapun dan apapun. Karena apa yang sudah saya lakukan semata-mata saya ingin belajar menjadi manusia dan sebuah generasi.
Insya allah, keyakinan ini membuat saya semakin bangga atas apapun yang sudah saya lakukan. Betapapun dalam hati kecil saya menejerit keras, ternyata untuk sekedar ongkos pindah saja harus menjual kasur yang menemani selama di subang, bahkan di detik-detik terakhir keberangkatan pun masih berfikir keras bagaimana bisa membayar kredit motor di bulan ke 30. Inikah yang disebut penghargaan??????
Semoga ini tidak menginspirasi sipapaun untuk bersekongkol dengan siapapun yang jelas-jelas harus dilawan!!!! Keep your idealism, bro….
Aku tak percaya lagi, dengan apa yang kau beri
Aku terdampar di sini, tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi, akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi, sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap, dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat, tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita, bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan
Aku pulang… tanpa dendam kuterima kekalahanku
Aku pulang… tanpa dendam kusalutkan kemenanganmu
Kau ajarkan aku bahagia, kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia, kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia, kau berikan aku derita
berhenti berharap (S07)
postingan terakhir ditulis di kabupaten subang, setelah selesai packing barang
Cerita yang berkaitan



Geuningan ???
asa sedih pas maca ieu artikel..
*merasa mengharu dalam*
wah….wah…boyongan rumah to?
yah knp ga kontak saya, padahal waktu itu saya lagi di subang tapi ada agenda lain. watir pisan juragan berpisah dengan tragis tanpa orang2 disekelilingmu. ketegaran yang harus menyertaimu. dunia ini fana bung, disubang udah se[perti itu pa lagi dijakarta, pasti lebih dahsyat. semoga menjadi pelajaran hidup selama di subang
jadi blom nggeh neich cerita abang ku …
kenapa tidak menggeluti dunia internet saja bang ??
jurnalist [freelance] dari doeleo abang ku ini tak tunggu2
kerja di rumah dan tanpa boss
-walaupun saya sendri masih pengen menjadi seorang pewarta berita
-
yg penting keep spirit saja lah …
tak tunggu kabar gembiranya
ada apa sih mas? masih belum nyambung aku…
tersayat-sayat rasanyah….tersayat sayat….
dua tiga ayam bangkok bulu merah, semoga ko sukses yah…
welcome to jkt ,,,,,,,,,,
kapan2 maen k tempat qt yaaaa
Alhamdulillah,
semoga semuanya berjalan lancar ya Kang…
gak penasaran sudah bertemu dengan Kang Atep alias kang Yayan… hehehe
salam
lah meuni watir. Kamarana atuh urang subangna, hampura kang. Mun deukeutmah Insya Allah mantuan. Sok sanajan kakarek tepung di diskusi kang agus, ngan asa geus wawuh lila.
apa emang kitu watek urang subang ? teu bisa ngahargaan jasa batur. Ah cing sabar weh kang.