Selamat Tinggal Subang…
Setelah tiga tahun lebih delapan bulan menjalankan tugas jurnalis untuk Seputar Indonesia di Kabupaten Subang, terhitung sejak hari Minggu, tanggal 31 Januari ini aku pamit dan undur diri untuk angkat koper dan meninggalkan Kabupaten Subang kembali dan guna berevolusi memulai hidup di ibu kota Jakarta.
Alhamdulillah selama hampir empat tahun di Subang, sudah banyak cerita, pengalaman dan pelajaran yang didapat. Entah pengalaman yang didapat secara alami di lapangan, ataupun pelajaran yang datang dari dampak pemberitaan. Semuanya itu menyatu menjadi sebuah catatan berharga dan terlezat dalam setiap jejak annas, pun sebagai modal untuk melanjutkan jejak-jejak annas di masa akan datang.
Di empat tahun itu juga, sudah banyak peristiwa, fenomena, prilaku amoral, penyelewengan, pemerkosaan, pengkhiyanatan, korupsi, aksi demonstrasi dan ceritra lainnya, yang telah memberi kontribusi besar dalam tugas jurnalis. Meski begitu, aku tidak mengatakan bahwa apapun yang sudah dilakukan itu semuanya ada manfaatnya bagi siapapun. Karena apapun yang aku lakukan itu, hanya semata-mata aku ingin belajar menjadi manusia dan mencoba “menjadi sebuah generasi”. Itu saja…
Dalam kondisi terpahit sekalipun, aku selalu berusaha agar keberadaanku di tengah-tengah tidak menjadi dan menambah beban lagi buat siapapun. Betapapun kenyataan dan ketabahanku harus menganggap dan memaksakan aku selalu berada dalam posisi salah dan kalah, tapi aku harus tetap ikhlas mempersembahkan manisnya senyumku terhadap kenyataan yang selalu mempecundangiku, dan membenciku, dalam ketidak-berdayaan dan keterbatasan.
Sementara aku tidak boleh marah dan murka serta dituntut tegar dalam sikap sempurna. Namun kadang-kadang menelan dan bertahan dalam suasana seperti itu, memang cukup melelahkan, letih, pahit, haus dan lapar. Dari sebuah jendela kamar, kadang terlintas hadir wajah-wajah ikhlas yang setia dalam berbagi suka dan duka bersama, sebagai stamina baru dan energy baru guna menopang dalam menjalankan titah.
Dalam I’tikad gelisah ini aku putuskan untuk pergi sendiri mengarungi lautan, menelusuri lembah-lembah, menjelajahi gunung-gunung, dan menerobos setiap waktu dan tempat dalam berbagai bentuk uraian kehidupan. Karena memang pada kenyataanya, sudah lama sekali tidak lagi pernah merasakan nyenyaknya tidur malam, dan lezatnya hidup dalam pangkuan.
Dan di penghujung waktu yang tersisa, ingin sekali aku sembahkan kata maaf kepada siapapun yang merasa tersakiti dan karena kehadiranku menjadi awal pesakitan. Sembah sujud dan terimakasih pun terurai bagai siapapun yang sudah menerima aku dan mempercayaiku bagian dalam hidup. Karena itu semua menjadi modal awal pada kali pertama mengawali langkah dan jejak di kabupaten Subang yang kini menjadi kampong ketiga setelah Majalengka dan Jakarta.
Pileuleuyan pileuleuyan sapu nyere pegat simpay. Pileuleuyan pileuleuyan paturay patepang deui. Amit mundur amit mundur amit ka jalma nu rea. Amit mundur amit mundur da kuring arek ngumbara. Hapunten, sanes kirang sono, wilujeng pisah baraya, tur permiosss!!!

“Aku tidak berpendapat bahwa itu semua ada manfaatnya bagi siapa pun, tapi aku ingin berkata bahwa aku mau belajar menjadi manusia dan mencoba “menjadi sebuah generasi”
Tags: subang



SelamaT JalaN BunG Anas, semoga Sukses ditempat yang baru……
Salam buat Getsa dan Ibunya ya. .
DitUngGu kisah2 nya lagi.
Sukses yow mas Jurnalis. .
semoga sukses di kota jakarta
selamat jalan kang, semoga cuaca jakarta tidak membuat akang lupa akan subang…hehhe
selamat datang subang dalam kenangan… heheheh
Semoga kenangan yang telah terajut menjadi bekal untuk terus berkarya.
Amin.
mungkin aku satu yang memberi “basa basi” dikau sang THE REAL JOURNALIST, tapi itu tulus walau…pahitnya kenyataan membuat mu enek dengan semua pujian itu. I just wanna say….what ever you do…what ever you fight… is only for your dedication to your profession. jadi yang kamu lakukan bukan untuk siapa2 bukan untuk apa2 selain dedikasi penuh untuk idealisme mu menjalani profesi sebagai reporter. walaupun banyak yang diuntungkan dengan tulisan2mu dan tidak sedikit juga yang merasa dirugikan, tapi pointnya you reported the fact..jadi nas…kamu tidak harus kecewa dan tetap berbesar hati, walau saya tahu….”anas juga manusia”….apa yang kamu rasakan adalah wajar dan manusiawi, tapi tidak boleh menjadikanmu menyesal atas apa yang kamu lakukan dan tidak kapok dengan apa yang telah kamu lakukan, bahkan bila “reported the fact” sudah jadi nafas dalam kehidupanmu maka pengalama selama si subang berkontribusi sangat besar untuk menjadikanmu lebih matang, lebih eksis dan lebih arif.
dimanapun berada, semoga tetap menjadi annas nashrulloh, selalu ditolong Alloh, seperti arti dari namamu.
selamat tinggal…walau tidak pernah berteman di dunia nyata, tapi bangga sudah berteman denganmu walau hanya di dunia maya.
Gw baru sbentar belajar tentang seorang pengelana jurnalis…tapi bagitu berharga…slamat jalan sahabat…tinggalkanlah jejak kebaikan dimanapun kau berada….
wah gak bakal ada lagi anas yang konfirmasi lagi dong….
selamat berkarir bro jangan lupakan subang… tegakan kebenaran dimanapun kamu berada….
wah…makasih dah ksh sdktnya kbr tntng subang,krn saya d perantauan,jd agak krng tau kbr subang,klopun tau hny dr kbr sdr2 n tmn lwt tlp,t sdp rsnya…tp lwt bakudara.com ini,sdktnya aku bs tau n liat foto2 keadaan subang saat ini…moga sukses d tmpt barunya,n bersabar dlm menghadapi setiap tantangan,krn…inilah hidup n kehidupan!d dunia ato d akhirat,kita ttp pny tantangan,iyakan?hehe…
sukses ya,,
semoga sukses..
asal yakin dan mau berusaha, kita semua akan bangkit dari semua kemunduran ini..
amien,,
Hahaha… Dramatis kali kat-kata perpisahamu, Nas… Tapi aku salut akan perjuanganmu. Saya gak khawatir di manapun kau berada kau akan tetap eksis. Insya Allah.
Apapun di mana pun dan bagaimana pun Allah SWT akan selalu menilai segala yang dilakukan.
Tinggal kita ikhlas atau tidak menerimanya tanpa harus berkata.
Mudah-mudahan makin dekat dengan istana negara bisa membawa perubahan yang jauh lebih baik.
Sebaliknya do’akan juga kawan-kawan di Subang supaya tetap istiqomah menjalankan fungsinya masing-masing.
Selamat jalan A’Anas,,
semoga sukses di tempat yang baru,,
Semangat,,
Semangat,,
tetap semangat,,,
harus lebih baik dari hari2 sebelumnya…
wassallam,,,
(yudi BK)
Selamat jalan kang, semoga tali silaturahmi kita tetap terjaga…
Subang akan selalu merindukan sosok yang penuh perjuangan seperti akang.
Akhirnya aku bebas…gak ada lagi deh minta jadi narsum di RSU…hehehe
Karena kesibukan jarang buka bakudara.com, baru inget setelah dibilangin Pa Agus M kalo dikau mau pindah….met jalan aja deh…segenap Karyawan RSU yang masih peduli pasti akan merasa kehilangan dikau yang selalu memberikan pemberitaan seimbang…terutama tentang RSU….keep update ya
Dari sekian banyak orang yang merasa kehilangan Kang Annas, saya salah satunya. Saya akan kehilangan teman, adik, sahabat juga guru. kang annas orang yang bebas, kritis, tapi enak diajak diskusi. saya akan kehilangan orang yang sering mengingatkan sekaligus pemberi semangat.
Kiprah saya di dewan banyak sekali dibantu oleh kerja kang Annas.
Saya yakin, bukan saja orang per orang saja yang kan merasakan kehilangan kang Annas tp juga pemerintah Subang. Tulisan-tulisan kang Annas cukup sering mengingatkan para elit dan pejabat tuk pro rakyat.
ahhh, pokokna mah seueur pisan lah…
“Selamat Jalan Kang, tetap berkarya wherever you are” . seperti pernah Rasul sampaikan, “sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”….
Salam hangat buat keluarga, kapan2 kita buka shaum bersama lagi, he he….
walau saya orang subang, tapi kang anas lebih tahu luar dalam tentang subang, selamat jalan kang…….
jejak annas pasti akan selalu dikenang di subang dan sekitarnya…terus berdjoeang kawan…tetap istiqomah pada misi.
sampai ketemu di Istana Negara.
Man Jadda Wajada…
selama sya dijakarta, kang anas dengan bakudaranya yg selalu memberikan kabar tentang subang. Terima kasih kang. sebenarnya rencananya kami tanggal 26 februari mau mengundang di acara pelantikan PD.PII subang dan seminar pelajar tentang moral. dan rencana nya akang mau kami undang untuk menjadi pembicara dari kalangan jurnalis subang. jadi kumha atuh akang. saya dah rekomendasikan ke teman2 PII subang untuk mengundang akang?
Kang Annas….
Mendengar kabar ini saya tertegun… Entah kapan lagi bisa bersua dengan sosok se”merdeka” Kang Annas.. Yang meski kesulitan tiada henti menerjang, godaan terus menerus membayang, tetap bisa berprinsip ” laa syarqiyyah wa laa ghorbiyyah…” dalam mengkritisi segala sesuatu. Rasanya masih sangat sedikit yang bisa kita sharing, baik langsung maupun tak langsung, juga berbagi peran, agar bumi Subang ini semakin nyaman dihuni…
Tapi saya juga yakin, Yang Maha Kuasa adalah sutradara terbaik bagi kehidupan kita. Bab posisi, domisili, juga peran kehidupan hanyalah tugas semata yang harus diemban, untuk nantinya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya…
Selamat Jalan Kang… Neda dihapunten, belum bisa memberikan support yang maksimal, baik dari sisi ke-partai-an, maupun sisi ke-B Pro-an…… Insya Allah hari esok lebih baik dari hari ini…
Nurul Fatoni
serta segenap crew B Pro..
(note : meski jauh, kalau mau ngebenerin komputer-nya masih boleh kok… mudah-mudahan juga diizinkan-Nya segera punya warung di Jakarta)
bro, ku tunggu kau sampai kapanpun kembali di subang….
Special Quote untuk Kang Annas ;
“Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak.”
Saya harus banyak belajar dari Kang Annas.
Terus terang. mendengar berita ini, saya cukup tersentak, apalagi belum genap sebulan lalu kami “ngariung” membicarakan masa depan situs BloggerSubang.com.
Apapun keputusan yang diambil Kang Annas saya yakin itu yang terbaik bagi Kang Annas dan keluarganya. Semoga kita masih bisa terus ngariung, canda tawa walau hanya ditemani secangkir kopi dan gorengan saat hujan di gubuk saya seperti waktu lalu.
Selamat jalan sobat, semoga tetap eksis dan maju terus, keep blogging yah…
Note Untuk Jejak Annas : Sang pengelana yang Kesepian
(ditulis ulang dari Facebook, yayan Suryanata)
Membaca catatan Kang Anas di http://www.bakudara.com yang menyatakan pileuleuyan kepada Subang,sejenak saya tertegun. Meski belum pernah bertatap muka, namun pernah tersambung waktu masih aktif di milis Urang Subang, saat itu saya pakai nama Atep. Terakhir saya kontak dengan Kang Anas dimilis itu ketika saya protes tentang solidaritas jurnalis pada saat terjadi pemukulan kepada Abah Renggo. Selebihnya saya berkomunikasi secara pasif hanya dengan membaca tiap catatan yang dibuat oleh Kang Anas, dan dikarenakan beberapa alasan tertentu saya pun kerap berkomentar dengan menggunakan nama pena lain dan email yang berbeda beda.
Citra yang saya tangkap dari seorang Annas, dia adalah orang yang merdeka dan mencitai kemerdekaan. Merdeka dalam mengartikulasikan setiap fenomena yang dalam pandangannya bertentangan dengan norma dan aturan. Menangkap setiap ketimpangan sosial yang membuatnya sedemikian gelisah, lalu mencurahkannya dalam tulisan, meski karena itu pula sering dihadapkan pada konsekuensi berat bahkan mungkin bisa mengancam keselamatan jiwanya. Tapi Annas tetap berdiri sikap sempurna.
Hari ini saya menerima mesej dari Kang Annas yang menyatakan akan meninggalkan Subang, rumah ketiganya setelah Majalengka, dan Jakarta. Apapun yang menjadi latar belakang kepergian Kang Anas, saya tetap berkeyakinan, orang merdeka seperti Kang Annas tidak akan rela membiarkan ketidak merdekaan orang lain, apalagi jika itu terjadi di rumahnya sendiri. Mudah-mudahan ini semacam istirah dari sang pejiarah saja. Sejenak menghirup kesegaran dan segenap energi baru untuk kemudian kembali meneruskan perjalanan, dan memberi kesaksian terhadap tiap jengkal titik perjalanan.
Sosok Kang Annas, terlalu mahal untuk dilepaskan. Namun demikian jika ada hal lain yang memang memaksa Kang Annas harus pergi, saya hanya bisa mengucapkan selamat jalan, beribu terima kasih saya sampaikan atas setiap informasi tentang subang, khususnya dari Hagaboku Band yang pernah juga di ulas di Sindo. Saat ini saya bertemu dengan frase ” Miskin tapi merdeka, atau Kaya tapi Terjajah”.
Terakhir, izinkan saya kutip satu puisi, saya petik dari Chairil Anwar, dan mudah-mudahan ini tidak terjadi pada Kang Annas :
……………………
Cemara berderai sampai jauh
terasa hari akan segera malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
…………………..
aku sekarang orang nya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
Dulu memang ada suatu bahan,
yang tak dapat diperhitungkan lagi kini
……………………
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tau ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita ….menyerah
mantab kawan…pengalamannya sangat mengasyikan…nanti kalo dah sampe di kota sibuk Jakarta jangan lupa untuk terus nge-blog yah.
hati2 dijalan sobat…
karena jasa kang anas, blogger subang bisa ngarumpul…..!!
Hatur Nuhun.
Nuhuuuuuun Pisaaaaaan.
good bye my fren…may we meet again…..kami orang subang jelas kehilangan anda yang sudah begitu agresif menjadi ‘jembatan’ yang mempersatukan orang subang di internet. Ngomong2 dimana neh pelabuhan barunya?
KENAPA harus pergi KANG???
apa gara-gara wacana “Menuju Kematian Seni Tradisi Subang” atau karena prediksi “Subang Bakal Bangkrut” lima tahun kedepan???
pokoke thank you banget buat semua ASPIRASI dan SEMANGAT yang telah mempopulerkan BLOGGER di Subang.. Semoga bisa bertemu lagi di kesempatan lain..
good luck aja kanggggggggggggggggggg…
Walaupun jarak dan waktu memisahkan qt ku yakin persahabatan ini tetap abadi …Wilujeng ngumbara d jakarta Mang Anas …
Pertemuan pasti ada perpisahan.. Selamat jalan..
Rasanya baru kemarin saya kenal dengan jurnalis sekaligus blogger nyentrik yang energik dan humoris namun kritis. Ide-ide segarnya selalu menginfirasi dan memberi penyadaran. Banyak yang ingin saya katakan tentang Annas, tapi rasanya kolom komentar yang sempit ini tak akan cukup untuk mengungkapkannya.
Sebagai sahabat saya hanya bisa membekali dengan pesan : dimana pun engkau berada jadilah seperti lebah, di manapun dia hinggap tak pernah membuat kerusakan tapi memberi manfaat. bunga yang dihisap sarinya berubah menjadi buah, hasil kerja kerasnya menghasilkan madu yang bermanfaat. tapi sekali dia diganggu, siapapun akan dikejarnya tanpa rasa takut.
Selamat jalan sobat! maafkan saya jika ada salah.
apakah ini interpretasi dari puisi Chairil Anwar ” Derai Derai Cemara “?
Selamat jalan kawan, berbeda perahu bukan bearti persahabatan itu kandas. Semoga perahu yang bersama mu itu menuju pulau yang indah…..
musim bole berganti…
daun-daun bisa berjatuhan..
kota pun bole kau tinggalkan…
tapi semoga,
tidak akan pernah berhenti utk smua karya dan tulisan mu yg slalu jadi inspirasi buat byk org…
smg tiap langkah yg anas kayuh adlh langkah pbaikan yg mnjadikan mu smakin dewasa…
Stiap gerak bernafaskan keimanan shingga mampu meraih cita2 dan cinta dr penghuni langit dan bumi…
Smoga barakah Allah tercurah pd mu dan klg…shingga kenyamanan dan ketentraman hati menaungi hari2 mu…
Doa tbaik dan terindah utkmu…
good luck…
semoga keindahan iman mngiringi langkahmu, selalu….